Runtut Pijar | Tony Lane


Runtut Pijar

Ada yang berpendapat bahwa awal kehadiran gereja di Indonesia dimulai dengan kedatangan orang-orang Kristen Nestorian ke Indonesia di abad ke-7 di pelabuhan Pancur (pantai barat Sumatera Utara), walau tidak ada kepastian untuk hal ini. Yang pasti, tidak ada kontinuitas antara mereka dengan gereja di Indonesia masa kini. Lain halnya dengan jemaat-jemaat yang pada abad ke-16 didirikan, dan masih dapat ditelusuri sampai saat ini, oleh pekabar-pekabar Injil Katolik Roma di Minahasa, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur, yang datang bersama dengan para pedagang dan prajurit Portugis sejak tahun 1511.

Kemudian, awal abad ke-17 menandai hadirnya kongsi dagang Belanda, Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC), yang membawa mandat dari Gereja Gereformeerd Belanda untuk menyebarluaskan iman Kristen di wilayah yang didudukinya, sebelum diambil alih oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda sejak tanggal 1 Januari 1800. Sebuah gereja Protestan, yaitu Gereja Protestan Indonesia (GPI), dibentuk untuk mencakup semua jemaat asuhan dan peninggalan VOC, termasuk dari aliran-aliran lain yang sudah ada di Indonesia saat itu. Sementara itu, sejak 1813 satu persatu lembaga penginjilan (zending) datang ke Indonesia. Dan, sejak tahun 1900 berdatanglah berbagai aliran, gerakan, dan gereja dari Amerika Serikat sampai sekarang, walau saat ini mayoritas pekerja Injil sudah berasal dari tanah air kita sendiri.

Membaca uraian singkat ini bisa menimbulkan kesan bahwa gereja-gereja di Indonesia pada umumnya merupakan ‘barang impor’ – apa yang diyakininya dan dianutnya semua berasal dari luar negeri. Kesan itu tidak sepenuhnya benar. Justru, latar belakang sejarah gereja Indonesia yang banyak dipengaruhi kolonialisme dan imperialisme ini sekiranya mengingatkan gereja untuk tidak mengulangi mental ‘imperialistik’ yang sama ketika berhubungan dengan rekan sebangsa dan senegaranya.

Di sisi lain, tetap harus ditegaskan bahwa gereja di Indonesia juga berakar di bumi Indonesia dan dengan demikian mewarisi, memelihara, dan mengembangkan berbagai kekayaan rohani, budaya dan falsafah hidup bangsa Indonesia.  Namun, sudah sampai sejauh manakah gereja di Indonesia, sebagai bagian integral dari bangsa dan negara yang sedang membangun dan mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan ini, menampilkan wajah Indonesia dalam kekayaan rohaninya dan pergumulannya?

Untuk download ebook nya silahkan download DISINI

Untuk saling menghagai tolong tinggalkan comment anda dan share blog ini …

About basrysihotang

ANYTHING
This entry was posted in Educations. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s